Feeds:
Pos
Komentar

Sepedaku setia menunggu

Saat itu aku masih duduk di kelas 1 SMP, begitu percaya diriku yang tipis, maklum saya dilahirkan dari lingkungan kampung yang jauh dari keramaian. Untuk belajar harus berebut lampu templok, jika di kamar. Ayahku menyediakan satu penerangan petromak untuk di ruang keluarga. Jadi kalau mau belajar dengan pencahayaan yang cukup, kami belajar bersama (3 kakakku) di ruang tengah, ruang keluarga. Namun jika ingin lebih tenang, aku belajar di kamar dengan lampu templok.
Malam belajar, paginya lubang hidung sudah berubah warna, asap hitam terhirup dan tersaring pada lubang hidung.
Sepeda kukayauh satu jam perjalanan,separoh aspal, dengan seperempat masih makadam dan seperempatnya adalah tanah. Jika hujan turun, alamat roda sepeda tidak bisa berputar dengan baik. Sepedaku sangat setia menemaniku kemanapun aku pergi, pagi hingga siang dia menungguku dengan sabar di parkiran sekolah, sementara pagi dan siangnya dia harus aku naiki sepanjang 10 km….
Uitt… sebenarnya saya bukan menceritakan hal ini…
Ceritaku adalah, saat bel pulang sekolah dibunyikan, semua bubar dan berangkat pulang menuju rumah. Saya agak terburu-buru, berlari menuju wc sekolah, untuk buang air kecil. Teman-teman yang lain sedang menuju ke parkiran sepeda dan menuju pintu gerbang. Di wc kebetulan hanya saya seorang. Deretan 8 pintu, aku pilih no 2 dari kiri. Hmmmmm….selesai sudah penantian yang kutunggu-tunggu di akhir pelajaran sekolah tadi.
Celana sudah kurapikan, senyum lega sedikit bersiul tanda puas….
Kubuka pintu wc,…dan… MACET!!!! Iya, pintu wc takbisa kubuka, kuketuk-ketuk berharap hilir mudik orang di luar bisa membantu. Hmm.. usahaku sia-sia. Apakah aku harus menunggu esuk harinya untuk bisa keluar? Apakah kedua orang tuaku tak akan merasa kehilangan gara-gara aku tidak bisa lolos.. Cemas, rasa puasku tadi mulai luntur karena kasus ini.
Aku pandang ke atas,..yah…ada harapan. Rupanya masing-masing ruang wc itu tanpa plafon, alias antar ruang bisa ditembus. Tanpa berpikir panjang, aku coba panjat dinding ruang wc itu, dengan memulai memanjat kolah (bak), kuraih ringbalk, kuraih usuk, dan kakiku bisa nangkring di tembok pembatas antar ruang. Siip.. wc sebelah pintu terbuka. Aku turun ke ruang wc sebelah, dan kali ini aku bisa tersenyum yang sebenarnya….
Kulihat sepeda jengki hitamku sendirian setia menunggu. Ku berucap “maaf ya, tadi aku ada urusan sedikit, kamu sendirian di sini ga papa kan?”
Sepeda jengkiku dengan lincah mengantarku kembalim ke rumah…

Iklan

Halo semua..

Selamat datang di halaman Citraka, dengan blog ini saya berharap bisa sharing tentang masalah-masalah yg kita hadapi.